Rants, Ramblings and Nothingness

A messy collection of random stuff really!!

Yang Hijau-hijau

Dini hari lepas tengah malam tahun baru 2010 ini saya merayakan-nya dengan menonton film yang sedang populer baru2 ini. Film ini berkisah tentang ekplorasi manusia ke sebuah planet yang mirip dengan bumi dan dihuni orang manusia berwajah seperti kucing dan berkulit biru. Tema ceritanya berkisar tentang konflik kepentingan diantara kedua spesies yang berbeda ini, di satu pihak, para manusia bumi yang tidak mengerti mengapa para penghuni planet tersebut tidak mau maju dan tetap tinggal di pohon yang mana sebenarnya di bawah tanah pemukiman mereka terkandung kekayaan yang sangat luar biasa berharga nilainya berbentuk logam.

Di lain pihak, manusia kucing tersebut punya pemikiran lain yang tidak dapat dipahami manusia bahwa mereka harus menjaga hutan tersebut karena di hutan tersebut memang terkandung harta karun yang memang sangat berharga, bahkan jauh lebih berharga dari logam yang dianggap manusia bumi sangat berharga, harta tersebut adalah identitas diri mereka sejak awal mereka ada di tanah tersebut, dengan kata lain ‘kemanusiaan’ mereka. Pada akhirnya konflik tersebut melahirkan peperangan, dan banyak korban di kedua belah pihak.

Saya tidak ingin membahas tentang film tersebut, cuplikan di atas hanyalah sekedar informasi untuk anda yang belum melihat film tersebut. Bagus atau buruknya film tersebut masing2 punya pendapat, tapi dalam segi efek grafis, tidak ada yang berani menyangkal bahwa film tersebut merupakan salah satu tonggak bersejarah perfilman dunia dalam hal efek grafis. Saya juga tidak ingin membahas tentang pesan moral yang berkaitan dengan perbedaan spesies/ras/kelompok/golongan yang melahirkan konflik berdarah. Saya lebih tertarik melihat pesan moral film tersebut dari sisi agama. Oh, pertama2, saya sama sekali bukan ahli agama, dan apa yang saya sampaikan cuma pendapat orang awam yang logikanya sangat sangat mungkin melompat2 🙂

Di mata saya, ada dua kelompok agama yang terwakilkan disana, kelompok agama modern dan kelompok kepercayaan tradisional/kuno. Manusia bumi sebagai wakil agama modern, yang walaupun tidak terlalu kentara ditampilkan dalam film tersebut, akan tetapi kalau ada yang kebetulan jeli, ada setidaknya satu kali dialog yang menyatakan akan hal itu. Sedangkan manusia planet yang berwajah mirip kucing tersebut tentunya mewakili kepercayaan tradisional yang lebih banyak berkaitan dengan fenomena alam.

Saya percaya munculnya agama sejalan dengan munculnya manusia di muka bumi ini, dan salah satu bentuk awalnya adalah kepercayaan tradisional tersebut. Biasanya kepercayaan kuno ini mengkaitkan banyak hal dengan kejadian2 alam yang terjadi, salah satu contohnya adalah adanya kepercayaan bahwa kalau ada gerhana bulan, artinya raksasa sedang berusaha menelan cahaya yang menerangin malam tersebut dan niscaya kalau berhasil akan menimbulkan kegelapan total bagi manusia. Memang banyak hal2 yang berbau mistis dan sulit dipercaya nalar manusia modern, akan tetapi salah satu inti dari ajaran mereka adalah untuk berharmonisasi tidak saja dengan Tuhan ataupun dewa-dewi mereka dan sesama manusia, akan tetapi mereka juga harus berharmonisasi dengan alam sekitar mereka untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup.

Hal inilah yang mencuri perhatian saya, dimana manusia modern dengan agama modern mereka, yang tentunya kita percaya lebih dapat dinalar, datang dengan menawarkan segala macam bantuan untuk manusia kucing tersebut agar mereka tidak tinggal lagi di pohon. Sebagai manusia maju, bila kita melihat suatu suku pedalaman yang tinggal di lokasi yang tidak terjangkau arus modernisasi akan berfikir, betapa mereka harus dikasihani dan dibantu untuk keluar dari jerat peradaban kuno. Akan tetapi mungkin saja mereka di lain hal juga berpikir bahwa kenapa juga manusia2 luar ini seenaknya saja menawarkan ini dan itu kepada kami walaupun kami tidak memerlukan hal2 tersebut untuk dapat bertahan hidup di tempat kami saat ini dan terlebih mengatakan bahwa dewa-dewi kami adalah palsu dan tidak layak disembah.

Padahal mungkin untuk mereka bukan dewa dewi tersebut yang harus disembah, akan tetapi mereka lebih ingin berharmoni dengan alam yang selalu menyediakan makanan dan tempat tinggal yang cukup layak untuk mereka. Oleh karena itulah biasanya mereka tidak pernah mengambil lebih banyak daripada yang mereka perlukan, karena pada saat mereka mengambil mereka akan meminta ijin terlebih dahulu. Mereka sama sekali tidak berani untuk merusak tatanan kehidupan di tempat mereka tinggal tersebut. Mereka percaya kalau harmonisasi terjadi maka mereka akan selalu dicukupkan untuk menyambung hidup mereka.

Tentu saja seiring dengan kemajuan cara berpikir manusia, keinginan manusia ikut bertambah, akan tetapi kearifan jaman dahulu untuk selalu berharmonisasi dengan alam perlahan menghilang. Hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horisontal dengan manusia selalu ada karena hal2 tersebut akan berefek secara langsung terhadap diri kita sendiri. Di lain pihak, harmonisasi dengan alam menghilang digantikan dengan penghambaan terhadap uang. Apa akibatnya tentu dapat kita lihat dengan mudah dimana2, salah satu yang paling simpel adalah bertanya pada kakek atau nenek anda, apa warna sungai, kali ataupun selokan di tempat tinggal mereka dulu.

Pengetahuan manusia memang berkembang sangat2 cepat, akan tetapi perkembangan agama cenderung semakin mandeg kalau tidak mau dibilang sebagai jalan di tempat. Kita serahkan hubungan dengan Tuhan dan manusia kepada agama masing2, akan tetapi sebagian besar agama2 besar yang ada di dunia ini tidak memberikan perhatian sama sekali terhadap alam, lebih2 kepada harmonisasi manusia dengan alam. Menurut saya hal ini sangat menghawatirkan. Akan tetapi untunglah akhir2 ini manusia cukup sadar untuk menambah satu kepercayaan baru, yaitu kepercayaan terhadap segala sesuatu yang berbau ‘hijau’ atau ‘green’ bahasa jawa-nya. Semakin banyak gerakan2 yang mulai memberikan perhatian terhadap isu tersebut akhir2 ini. Akan tetapi, kita juga harus menanamkan ‘kepercayaan’ tersebut ke dalam hati kita masing2 untuk dapat menjalankan ‘ibadah’ dengan baik. Sekali lagi, hal ini hanya sekedar tulisan untuk menggelitik teman2 sekalian 😉

Advertisements

January 1, 2010 - Posted by | Nonsense | , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: